Pages

Subscribe:

Sabtu, 25 Februari 2012

Pentingnya Peran Masyarakat Sipil Dalam Penanggulangan HIV/AIDS

AIDS (Aquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah penurunan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Viruse). Seseorang yang terinfeksi oleh virus ini tidak dapat mengatasi serangan infeksi penyakit lain dikarenakan sistem kekebalan tubuhnya menurun terus secara drastis. Penyakit AIDS adalah salah satu penyakit PMS, karena salah satu cara penularannya adalah dengan melalui hubungan seksual dengan orang yang telah terinfeksi HIV/AIDS.

Belakangan, persoalan HIV/AIDS di Indonesia memang belum mendapatkan perhatian yang cukup serius, terutama oleh pemerintah. Tapi, di luar itu juga sebenarnya peran masyarakat sipil sangat dibutuhkan, terutama untuk memberi dorongan atau motivasi pada orang-orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Karena orang-orang yang terinfeksi HIV/AIDS akan merasa lebih nyaman jika tetap hidup berdampingan tetapi, tetap menghindari kegiatan apa saja yang mungkin dapat menularkan penyakit itu. Virus HIV tedapat pada seluruh cairan tubuh penderita AIDS, tetapi yang dapat ditularkan hanya yang terdapat pada sperma (air mani), darah dan cairan vagina. Perlu diketahui juga, sekali virus menginfeksi penderita, maka virus akan tetap ada sepanjang hidup penderita. Cara penularan yang mungkin akan terjadi bila seseorang akan terinfeksi HIV/AIDS adalah sebagai berikut:

1. Berganti-ganti pasangan seksual atau hubungan seksual denagn orang yang positif terinfeksi HIV/AIDS.

2. Memakai jarum suntik bekas orang yang terinfeksi HIV/AIDS.

3. Menerima Tranfusi darah dari orang yang telah tercemar HIV/AIDS.

4. Ibu hamil yang telah terinfeksi HIV/AIDS akan menularkannya ke bayi yang ada dalam kandungannya sehingga setelah lahir bayi itupun akan terinfeksi HIV/AIDS.

Benerapa tahun yang lalu ada sebuah drama Asia yang sangat menyentuh, yaitu berkisah tentang seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang dulu saat masih kecil pernah mengalami sebuah musibah dan untuk menyelamatkan nyawanya ia harus segera menerima transfusi darah. Tetapi dokter yang menanganinya tidak sengaja mentransfusikan darah yang ternyata milik seseorang yang telah terinfeksi HIV/AIDS. Karena pada saat itu semuanya dalam keadaan panik dan darurat. Hal itu baru diketahui beberapa waktu setelah terjadinya transfusi darah, akibatnya si anak perempuan tadi positif terinfeksi HIV/AIDS. Sang dokter sangat menyesal dan sangat menyayangkan hal itu terjadi pada pasiennya yang manis. Tapi, ini mungkin sudah suratan dan tak ada siapapun yang dapat mencegahnya dalam situasi yang sedemikian gentingnya.

Hal itu masih berlanjut sampai saat anak perempuan itu bersekolah di sebuah sekolah dasar dan yang lebih penting semua orang mengetahui penyakit yang di derita si anak perempuan tadi. Semua orang, terutama para tetangganya membenci anak itu karena penyakit yang ia derita serta melarang anak-anak mereka bermain dengan si anak penderita tersebut. Mereka berniat untuk mengusir dia dan keluarganya dari lingkungan tempat tinggal mereka. Ini memang hanya sekedar drama penghibur para pemirsa yang setia. Tapi di sisi lain drama ini mempunyai nilai-nilai yang patut diteladani. Sekarang, bagaimana jika peristiwa tersebut menjadi salah satu kisah nyata yang terjadi di Indonesia, atau mungkin terjadi di lingkungan tempat tinggal kita. Mungkin yang menjadi faktor utama yang harus bertaggung jawab adalah masyarakat sipil sebagai orang-orang yang bersama-sama tinggal dalam sebuah lingkungan yang sama pula. Bisa dibayangkan bagaimana guncangan psikologis yang harus dirasakan oleh anak yang baru berusia 8 tahun yang jelas sekali tak berdosa dan tak harus mempertanggungjawabkan penyakit yang ia derita. Padahal si anak perempuan yang berusia 8 tahun tersebut adalah anak yang lugu dan memahami kalau ia berbeda dengan anak lain. Meski dia tak tahu apa yang sebenarnya dia alami. Dan selain itu peran ibunya yang baik juga sangat diperlukan dengan selalu mengajarkan jika sang anak berdarah, usaplah darah itu dengan tisu dan masukkan pada kantong plastik lalu simpan untuk dibakar di rumah serta yang terpenting adalah jangan membiarkan orang lain membantu terlebih mengusap darahmu. Bukankah ibu yang seperti itu iadalah ibu yang bertanggung jawab penuh atas apa yang diderita oleh anaknya? Tapi masyarakat selalu saja menganggap HIV/AIDS adalah penyakit setan yang sangat kotor. Tak ada seorangpun yang mau mengidap penyakit itu dan perlu diketahui tak semua orang pengidap HIV/AIDS adalah orang yang tercela. Dengan minimnya hak bermasyarakat yang dimiliki oleh para penderita HIV/AIDS seharusnya masyarakat membantu mereka dengan menjadikan dunia mereka lebih indah. Karena tak menutup kemungkinan hidup mereka tidak akan bertahan lama. Karena HIV/AIDS berhasil menggerogoti daya imunitas yang dimiliki oleh seseorang yang telah terinfeksi, jika dilihat dari banyaknya orang yang meninggal karena penyakit HIV/AIDS setiap tahunnya.

Peran masyarakat sipil dalam menanggulangi HIV/AIDS sangat besar sekali, dan pastinya sangat berguna bagi mental para penderita HIV/AIDS yang mungkin sering kali kacau akibat sulit menerima hal yang sedang menimpanya. Beberapa peran masyarakat sipil di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan semangat hidup para penderita HIV/AIDS.

Orang yang terinfeksi HIV/AIDS biasa ketika mendengar kalau dia menderita penyakit tersebut akan berpikir kalau dia itu kotor, sampah masyarakat dan tak pantas mendapatkan apa yang dia inginkan. Di saat-saat inilah seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS tersebut memerlukan dukungan moril dan motivasi yang dapat mempengaruhi si penderita tersebut agar tidak patah semangat dan yang terpenting dia harus selalu merasa kalau dia masih dibutuhkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

2. Menyelamatkan penderita HIV/AIDS dari olok-olokan yang mungkin akan diterima bahkan dilontarkan dengan kasar oleh masyarakat di sekitarnya.

Terkadang orang akan merasa risih jika ada seorang penderita HIV/AIDS tinggal di lingkungan tempat tinggalnya. Maka, orang tersebut akan berusaha agar si penderita atau orang yang terinfeksi HIV tersebut pergi sejauh mungkin dan salah satu caranya adalah dengan mengolok-olok atau bahkan mengucilkan si penderita agar pergi sejauh mungkin dari pergaulan masyarakat. Sikap yang seperti ini yang harus dihindari agar tak ada beban psikologis yang mungkin dirasakan penderita HIV/AIDS.

Beberapa hal seperti itulah yang mungkin akan terjadi jika masyarakat tidak menggunakan dengan baik perannya. Selain itu masyarakat sipil juga dapat mendirikan sebuah lembaga atau yayasan sosial masyarakat yang khusus menangani persoalan-persoalan HIV/AIDS. Dalam sebuah lembaga atau yayasan sosial tersebut terdapat seorang wakil dari masyarakat yang menyuarakan hak-hak penderita HIV/AIDS selama dia mau mencegah berbagai penularan HIV/AIDS yang mungkin dapat terjadi. Cara-cara yang dilakukan contohnya adalah dengan mengadakan penyuluhan penanggulangan tentang HIV/AIDS serta berbagai penyuluhan lain yang dapat membantu memberi pengetahuan pada masyarakat tentang HIV/AIDS meliputi cara penularannya, tanda dan gejala dan cara menghindari. Karena sampai sekarang, belum ditemukan cara pengobatan HIV/AIDS yang tuntas. Saat ini, yang ada hanyalah menolong penderita untuk mempertahankan tingkat kesehatan tubuhnya sebab daya imunitasnya semakin lama akan semakin menurun.

Dengan keadaan para penderita HIV/AIDS yang mungkin sangat menyedihkan tak seharusnya orang-orang yang ada di sekitar mereka memperlakukan mereka dengan buruk. Terkadang para penderita HIV/AIDS juga tak pernah menyadari kalau mereka akan terinfeksi penyakit itu. Karena tubuh yang terinfeksi HIV/AIDS tidak langsung menunjukkan gejala sakit yang parah dan ini mungkin akan diketahui beberapa tahun sesudahnya.

0 komentar:

Poskan Komentar